Minggu, 08 Maret 2020

CERITA MITOS DAN LEGENDA, MAHASISWA SEM 1 KELAS A.PAGI


ANDE ANDE LUMUT

Pada zaman dahulu, di Kerajaan Jenggala di serang oleh kerajaan musuh. Di saat pertempuran sengit berlangsung. Permaisuri raja yang bernama Putri Dewi Sekartaji melarikan diri dan bersembunyi ke sebuah desa yang jauh dari Jenggala. Untuk menjaga keselamatan jiwanya, ia menyamar sebagai gadis kampung. Dewi Sekartaji tinggal di tempat Nyai Intan, ia merupakan seorang janda kaya yang mempunyai tiga orang putri. Mereka adalah Klenting Abang (sulung), Klenting Ijo, dan Klenting Biru (bungsu). Oleh Nyai Intan, Dewi Sekartaji diangkat menjadi anak dan diberi nama Klenting Kuning. Setelah keadaan di Kerajaan Jenggala kembali aman, sang Pangeran mencari jejak istrinya. Ia pergi dan menyamar menjadi seorang pangeran yang sedang mencari jodoh. Panji Asmarabangun menyamar dengan nama Ande Ande Lumut. Lalu ia membuat sebuah sayembara. Dalam waktu singkat, berita tentang sayembara itu tersebar hingga ke desa tempat tinggal Klenting Kuning. Klenting Abang dan saudarinya mendengar kabar sayembara itu. Mereka sangat senang, dan ingin mengikuti sayembara itu dengan berhias dan berpakaian secantik mungkin. Tetapi, Klenting Kuning di larang ikut lalu di suruh mencuci pakaian oleh Klenting Abang di sungai.
Ketika Klenting Kuning sedang mencuci di sungai, tiba-tiba seekor burung bangau datang menghampirinya. Anehnya burung itu dapat berbicara seperti manusia dan kedua kakinya mencengkram sebuah cambuk. Burung itu berpesan kepada Klenting Kuning untuk segera pergi ke Desa Dedapan untuk mengikuti sayembara tersebut karena ia akan menemukan Pangera Panji Asmarabangun dengan berbekal cambuk yang akan menolongnya ke sana. Klenting Kuning kembali ke rumah dan berangkat menuju Desa Dedapan. Sementara itu, di tepi Sungai Bengawan Solo. Ketiga saudara dan ibu angkatnya kebingungan, karena harus menyebrangi sungai, tak ada perahu disana. Lalu,mereka melihat seekor kepiting raksasa yang bernama Yuyu Kangkang utusan Ande Ande Lumut. Ia diutus untuk menguji para peserta sayembara yang melewati sungai itu. Mereka meminta pertolongan kepada Yuyu Kangkang tetapi ada persyaratan yang harus di lakukan, yaitu dengan mencium Yuyu Kangkang. Dan mereka mau memenuhi persyaratan tersebut. Lalu Klenting Kuning tiba di tepi sungai itu. Yuyu Kangkang pun mengajukan persyaratan yang sama. Tetapi Klenting Kuning menolaknya berkali-kali karna ia tidak ingin menghianati suaminya. Berkali-kali Klenting Kuning memohon namun Yuyu Kangkang tetap menolaknya. Mengingat perkataan burung bangau tadi, Klenting Kuning memukulkan cambuknya ke sungai dan seketika pula air di Sungai Bengawan Solo menjadi surut. Melihat hal itu, Yuyu Kangkang menjadi ketakutan dan segera menyeberangkan Klenting Kuning bahkan sekaligus mengantarkannya ke Desa Dadapan. Sayembara  dimulai dan secara bergiliran Klenting Abang dan kedua adiknya menunjukkan kecantikannya di hadapan Ande Ande Lumut. Namun, tak seorang pun yang di pilih, karena menurutnya Klenting Abang dan kedua saudarinya telah mencium Yuyu Kangkang. Lalu dia memilih Klenting Kuning dengan persyaratan tidak mencium Yuyu Kangkang. Kemudian Ande Ande Lumut membongkar penyamarannya,  dia mengaku sebagai Panji Asmarabangun. Klenting Kuning sangat bahagia karena ia telah bertemu dengan suaminya.


BATU BAGGA

Di suatu kampung pesisir Sulawesi Tengah, hiduplah seorang laki-laki paruh baya bernama Intobu, ia tinggal bersama anaknya, Impalak. Istrinya telah lama meninggal. Mereka sangatlah miskin, hidup mereka hanya bergantung pada ikan di laut. Impalak yang sudah dewasa pun berkeinginan untuk memperbaiki nasib. Dengan perasaan tak tega meninggalkan ayahnya, Impalak pun meminta izin kepada ayahnya untuk pergi merantau. Intobu tak dapat berbuat apa-apa ia pun mengizinkan anaknya merantau.
Impalak pun memutuskan untuk segera berlayar menggunakan perahu Bagga. Dengan harapan ia bisa mengubah nasibnya dan juga ayahnya. Beberapa tahun kemudian, ketika Intobu sedang mencari ikan di pelabuhan, ia melihat sebuah perahu Bagga sedang menuju ke Pelabuhan. Saat perahu itu mulai mendekat, ia melihat seorang pria dan wanita cantik, yang ia yakini bahwa pria itu adalah anakanya yang kini telah berhasil di perantauan.
“Impalak! Impalak! Anakku”  teriak Intobu dengan penuh semangat dari sampan kecilnya. Karena malu, Impalak berpura-pura tak mendengar. Sepertinya orang tua itu memanggilmu, apakah dia ayahmu” tanya istri Impalak. Impalak tertawa mengejek, “mana mungkin, ayahku sudah lama meninggal, dia itu orang sakit jiwa” ujar Impalak.
Sementara itu, Intobu terus mengayuh sampannya mengejar perahu Bagga milik Impalak sambil terus berteriak memanggil anaknya. Tiba-tiba sampannya tertiup angin kencang. “ Impalak tolong  aku!” teriak Intobu. Namun, Impalak malah tertawa dan mengejek. Intobu sangat kecewa dan marah, “ Ku kutuk kau, dan perahu Bagga mu jadi batu Impalak!”
Tiba-tiba angin besar meniup perahu Impalak sehingga terseret ke pesisir, dan seketika perahu Bagga dan seluruh awaknya menjadi batu, yang kini di sebut Batu Bagga.



ASAL MULA SITU BAGENDIT

Alkisah, di sebuah desa  terpecil di daerah Jawa Barat, ada seorang janda muda dan tidak mempunyai anak. Suaminya telah meninggal dunia dan mewariskan harta kekayaan yang melimpah serta rumah yang mewah. Ia adalah seorang janda yang kaya raya. Tetapi walaupun sangat kaya, janda itu sangat kikir, pelit dan juga tamak. Ia tidak pernah mau membantu orang lain yang membutuhkan. Ia tidak segan-segan mengusir orang miskin yang datang ke rumahnya untuk meminta bantuan. Karena sifat kikirnya itu, maka  masyarakat memanggilnya Bagende Endit, yang artinya orang kaya yang pelit. Bagende Endit juga mewarisi pekerjaan suaminya sebagai rentenir. Hampir seluruh tanah pertanian itu adalah miliknya. Ia membeli tanah pertanian dari penduduk dengan cara memeras, yaitu meminjamkan uang kepada warga dengan bunga yang tinggi.
Suatu hari, ketika Bagende Endit sedang sibuk menghitung emas dan permatanya di depan rumah, tiba-tiba datanglah seorang perempuan tua sambil menggendong bayi dengan kain lusuhnya. “ Bagende Endit, kasihanilah kami! Sudah dua hari amal saya tidak makan,” kata perempuan itu memelas. “ Cepat kau pergi dari hadapanku!” bentak Bagende Endit. Bayi di gendongan perempuan itu pun menangis mendengar suara bentakan Bagemde Endit. Karena kasihan melihat bayinya, perempuan tua it terus memohon agar diberi sesuap nasi. Bagende Endit masuk ke dalam rumah. Namun, bukan makanan yang dibawanya, melainkan sebuah ember yang berisi air dan di siramkan ke perempuan tua itu. Keesokan harinya, beberapa warga datang ke rumah Bagende endit meminta air. “Hai, kalian semua! Jika kalian mau mengambil air, pergilah ke sungai sana!” usir Bagende Endit. Tak berapa lama setelah warga tersebut berlalu, tiba-tiba seorang kakek tua renta berdiri sambil memegang tongkatnya di depan rumah Bagende Endit kakek itu juga bermaksud untuk meminta air tapi hanya untuk diminum. “Ampun Bagende Endit! Berilah hamba seteguk air minum. Hamba sangat haus.” iba kakek itu. Bagende Endit yang sejak tadi sudah merasa kesal menjadi semakin kesal melihat kedatangan kakek tua itu. Tanpa sepatah katapun, ia keluar dari rumahnya lalu menghampiri dan merampas tongkat sang kakek. Dengan tongkat itu, ia kemudian memukuli kakek itu hingga babak belur dan jatuh tersungkur ke tanah. Ia membuang tongkat itu di samping kakek itu lalu masuk ke dalam rumahnya. Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, kakek itu berusaha meraih tongkatnya untuk bisa bangkit kembali. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, kakek itu menancapkan tongkatnya di halaman rumah Bagende Endit. Begitu ia mencabut tongkat itu, tiba-tiba air menyembur keluar dari bekas tancapan tongkat itu. Bersamaan dengan itu, kakek tua itu pun menghilang entah kemana. Semakin lama semburan air itu semakin besar  dan deras. Para warga pun berlarian meninggalkan desa itu untuk menyelamatkan diri. Sementara itu, Bagende Endit sibuk menyelamatkan hartanya tanpa disadarinya, ternyata air telah menggenangi seluruh desa. Ia pun berusaha untuk menyelamatkan diri sambil berteriak meminta tolong.
Bagende Endit tenggelam bersama seluruh harta kekayaannya. Semakin lama, desa itu terus tergenang air hingga akhirnya lenyap dan menjadi sebuah danau yang luas dan dalam. Oleh masyarakat, danau itu diberi nama Situ Bagendit.


ASAL MULA NAGARI MINANGKABAU

Dahulu kala, di daerah Sumatera Barat, ada sebuah kerajaan yang  makmur dan damai dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana. Kerajaan itu bernama Kerajaan Pagaruyung. Suatu ketika terdengar kabar bahwa kerajaan Majapahit akan menyerang kerajaan Pagaruyung . Padahal para pemimpin Kerajaan Pagaruyung memberikan semboyan kepada seluruh prajurit untuk menegakkan perdamaian. Suatu hari, Raja kerajaan Pagaruyung melakukan diskusi dengan para penasehatnya. Mereka mencari cara untuk menahan serangan pasukan Majapahit. Seorang penasehat kepercayaan Raja mengusulkan ide yang cemerlang. “Paduka Raja, Apakah sebaiknya kita ajak musus untuk berunding demi menghindari pertumpahan darah. Kita sambut mereka di perbatasan setelah itu kita ajak mereka untuk berunding. Jika mereka menolak, ajaklah mereka untuk beradu kerbau,” kata penasehat Raja itu Setelah itu, sang Raja bersama punggawanya menyiapkan segala sesuatunya. Sang Raja menyuruh putrinya untuk mencari beberapa dayangnya yang cantik. Lalu mereka diajari tata karma dan memakai pakaian yang indah.
Pasukan Majapahit tiba di perbatasan. Mereka dijamu oleh dayang-dayang istana. Melihat perlakuan ramah serta hidangan dan hiburan yang diberikan, pasukan Majapahit menjadi terheran-heran, dan menjadi luluh. Datuk Tantejo Garhano segera mengajak pemimpin mereka ke istana untuk menemui sang Raja. “Selamat datang, Tuan,” sambut sang Raja dengan ramah. “Ada apa gerangan Tuan kemari,” kata sang Raja. “Kami di utus oleh Raja Majapahit untuk menaklukkan Pagaruyung.” jawab pemimpin itu. “Kami memahami tugas Tuan. Tapi, bagaimana kalau perperangan ini kita ganti dengan adu kerbau. tujuannya adalah untuk menghindari pertumpahan darah di antara pasukan kita.” Jawab sang Raja. Pemimpin pasukan Majapahit itu terdiam. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia pun menyetujui usulan sang Raja. “Baiklah, Paduka Raja. Kami menerima tawaran Paduka,” jawab pemimpin itu.
Keesokan harinya, kedua kerbau aduan dibawa ke gelanggang. Kedua kerbau itu dilepas, kerbau milik Majapahit terlihat beringas dan liar, sedangkan  milik Pagaruyung adalah seekor anak kerbau. Anak kerbau milik Pagaruyung segera memburu kerbau besar karena mengira induknya. Perut kerbau milik Majapahit pun terluka terkena tusukan besi runcing yang terpasang dimulut anak kerbau milik Pagaruyung. Setelah beberapa kali tusukan, kerbau milik pasukan Majapahit akhirnya roboh dan terkapar ditanah.
Berita kemenangan Kerajaan Pagaruyung mengalahkan Majapahit menggunakan kerbau terkenal keseluruh pelosok desa. Kata “minang kabau” berarti menang kerbau. Kinii atap rumah Minangkabau menyerupai bentuk tanduk kerbau.




JAKA TARUB

Sepeninggal ibunya, Jaka Tarub mengisi hari-harinya dengan berburu. Hampir setiap hari ia berburu ke hutan. Hanya dengan berburu, Jaka Tarub bisa melupakan kesedihannya. Seperti pagi itu, Jaka Tarub pergi ke Hutan untuk berburu. Ketika sampai di hutan, ia hanya menunggu hewan buruan lewat di depannya. Tetapi tak ada satupun hewan buruan yang didapat. Jaka Tarub pergi ke danau Tayawening karena kehausan. Tiba-tiba ia mendengar suara gadis-gadis yang sedang bercanda. “Mana mungkin ada gadis bermain di tengah hutan belantara begini”, pikirnya. Suara itu semakin jelas terdengar. Jaka Tarub mengintip dari balik pohon besar. Alangkah terkejutnya ia menyaksikan tujuh orang gadis cantik sedang mandi di Danau Toyawening. Semuanya berparas cantik. Dari percakapan mereka, Jaka Tarub tahu kalau tujuh gadis itu adalah bidadari yang turun dari khayangan. “Apakah ini arti mimpiku waktu itu”, pikirnya senang. Jaka Tarub melihat tumpukan pakaian bidadari di atas sebuah batu besar di pinggir danau. Pakaian itu memiliki warna yang berbeda. Jaka Tarub mengambil salah satunya. Dengan hati-hati Jaka Tarub berjalan menghampiri tumpukan baju itu. Jaka Tarub memilih selendang berwarna merah. Setelah berhasil, Jaka Tarub buru-buru menyelinap ke balik semak.
Tiba-tiba seorang bidadari berkata, “ Ayo kita pulang sekarang hari sudah sore”. “Ya benar, sebaiknya kita pulang sekarang  sebelum matahari terbenam”. tambah yang lain. Para bidadari itu keluar dari danau. “Dimana selendangku”, teriak seorang bidadari. “ Siapa yang mengambil bajuku”, tanya bidadari itu. “Dimana kau taruh bajumu Nawangwulan”, tanya bidadari yang lain. “Disini.” jawab Nawangwulan. Ia terlihat sangat panik. Tanpa bajunya, ia tak bisa pulang ke Khayangan.
Nawangwulan hanya bisa melambaikan tangan kepada keenam temannya yang terbang meninggalkan Danau Toyawening. “Mungkin memang nasibku untuk menjadi penghuni bumi” piker Nawangwulan sambil menangis. Kemudian, ia berucap “Barangsiapa yang bisa memberiku pakaian, akan kujadikan saudara bila ia perempuan, tapi bila laki-laki akan kujadikan suamiku”. Jaka Tarub muncul dari balik pohon dan menolongnya. Sejak itu Jaka Tarub menikah dengan Nawangwulan, seorang bidadari dari Khayangan. Mereka dikaruniai seorang putri cantik yang bernama Nawangsih.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERGERAKAN NASIONAL DALAM MENCAPAI DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

MANDOR BERDARAH Sekitar 88 km timur Kota Pontianak ,tepatnya disebuah kota kecamatan yang bernama Mandor ,yang juga merupakan bagian dar...