MANDOR
BERDARAH
Sekitar
88 km timur Kota Pontianak ,tepatnya disebuah kota kecamatan yang bernama
Mandor ,yang juga merupakan bagian dari Kabupaten Landak ,pernah terjadi sebuah
tragedi sejarah kelsam pada tahun 1944 .Tentara pendudukan jepang melakukan
pembantaian massal di Kalimantan Barat terhadap kalangan feodal lokal ,cerdik
pandai ,ambtenaar ,politisi ,tokoh masyarakat ,tokoh agama ,hingga rakyat
jelata ,dari berbagai etnis ,suku maupun agama .Borneo Sinbun surat
kabar pemerintahan Balatentara jepang ,sabtu 1 Sitigatu 2604 atau juli 1944 halaman
pertama menurunkan berita utama .Setidak nya ada 48 nama korban yang dimuat Borneo
Sinbun hari itu ,lengkap dengan keterangan umur ,suku,jabatan/perkerjaan .
Diungkapkan pula ,penangkapan secara besar-besar pertama kali dilakukan tentara
jepang subuh 23 Zyugatu (23 Oktober 1943-pen) ,di susul penangkapan kedua subuh
24 Itigatu (24 Januari 1944-pen) .
Sekitar
tiga tahun mendaulat Kalimantan Barat ,tentara pendudukan jepang telah
membantai 21.037 orang versi pemerintah provinsi Kalimantan Barat 1977 .Dari
lingkungan istana Kadariyah Pontianak ,jepang bukan hanya menangkap dan membunuh
Sultan Syarif Muhammad Alkadri ,tetapi juga 59 korban lainya .Sangat sedikit
nama korban yang tertulis di Borneo Sinbun itu .Adapun data 21.037 korban ini
terungkap dari mulut Kiyotada Takahashi seorang turis jepang yang berkunjung ke
Kalimantan Barat 21-22 Maret 1977 kepada Mawardi Rivai (alm) seorang wartawan
Pontianak .Tseneo Iseki (izeki) menuliskan :…Selanjutnya saya perlu beritahukan
bahwa tuan2 yang telah jadi korban dengan perkara Pontianak banyaknya 4486
orang (pen) .Setelah 1946 sampai awal 1949 ,waktu berkuasa pemerintah sekutu semua
tulang belulang korban ,terutama di mandor ,dikumpulkan
Pada
1976/1977 ketika itu pemerintah daerah tingkat I Kalbar membangun sebuah
monument di mandor .Kompleks monumen dilengkapi pula dengan plaza yang luas ,di
kiri-kanan monumen dibuat dinding beton ,masing-masing berukuran 15+2,5
berhiaskan relif .monumen ini di ersitek oleh Ir.M.Said Djafar (putra salah
satu korban mandor) ,pelaksanaan pembangunan H.Fachrozi BE (CV Novan Nayan
,Pontianak) .Desain relief oleh seniman lukis Kalbar Syekh Abdul Aziz Yusnian ,pembuatan
relief oleh hermani Cs .seniman Yogyakarta .Dengan Perda No. 5 Tahun 2007
,Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menetapkan 28 juni sebagai hari hari
Berkabung Daerah (HBD) Kalimantan Barat .Pengibaran bendera setengah tiang 28
juni di Kalimantan Barat ,dimulai pada 2007 .Kalimantan Barat berkabung atas
malapetaka yang ditimbulkan tentara pendudukan jepang 1942-1945.
LAHIRNYA KOTA KETAPANG
Nama kota tanjungpura kuno menurut catatan orang
portugis, inggris, belanda dan perancis disebut juga dengan nama taniampuro,
taiao puro dan tanjungian. Beberapa orang eropa yang menamai peta
wilayah geografis tanjungpura kuno dengan nama tersebut adalah Ferdinand
magelhans (1523), Antonio pigafetta (1525), Sebastian muster (1540), Gastaldi
(1548), ramusio (1554), Gerard Mercator (1569), Abraham ortelius (1570),
Girolamo olgiato (1570), petrus plancius (1594), theodore de bray (1598; 1602),
willem blaeu(1635), dan jan jansson (1657).
Menurut gusti kamboja (2004), seperti yang ia kutip
dari atlas sejarah yang disusun Muhammad yamin tahun 1965, bahwa untuk
mengidetifikasi nusantara raya menurut mpu prapanca di dalam naskah negarakertagama,
wilayah geografi kota Ketapang saat itu diberi nama tanjungpura. Kemudian dalam
peta pada masa kesultanan riau-johor (harun, 2003), wilayah kota Ketapang
diberi nama matan.
Perubahan nama wilayah dari tanjungpura menjadi
matan dan kemudian Ketapang. Tidak di ketahui pasti (kamboja, 2004). Hal ini
karena tidak ada cataatn sejarah atau prasasti yang menunjukan peristiwa itu.
Namun, perubahan tempat atau kota pada masa kerajaan, diduga akibat perubahan
letak kerajaan atau berubahnya raja yang berkuasa di tempat itu akibat suatu
peristiwa tertentu (perang, bencana alam, keputusan raja). Mengutip gusti
kamboja (2004), perubahan nama kota matan menjadi ketapang kemungkinan
berasal dari nama kampung ketapang yang terletak di pinggiran sungai
Ketapang kecil oleh pemerintah republik Indonesia.
Kemungkinan lain nama Ketapang mengambil nama
tumbuhan pantai, yaitu pohon Ketapang (terminalia catappa) yang banyak tumbuh
di sepanjang pantai. Pada masa kerajaan pra-islam, pemberian nama kota atau
negeri biasanya sama dengan nama kerajaan itu sendiri. Kebiasaan itu misalnya,
kerajaan kediri, Cirebon, landak, mempawah dan sambas (kamboja, 2004). Kota
Ketapang sampai saat ini pun belum mengetahui kapan berdirinya ibukota
kabupaten ini. Sejarah Ketapang sebagai tempat pernah berdirinya kerajaan
tanjungpura-matan memang tertua di antara kabupaten/kota lainya di provinsi
Kalimantan barat.
PEMERINTAHAN
KOTA PONTIANAK
DARI
SULTAN SAMPAI WALIKOTA
AL-Habib Hussein
merupakan seorang penyebar agama islam yang lahir pada 1706 M dan bersal dari
kota Trim Hadralmaut tepatnya disekitar wadi Hadralmaut ,yang merupakan satu
dari sejunlah satu kecil sungai di negeri Arab .Beberapa diantaranya para
penyebar agama islam yang melakukan kegiatan dikawasan nusantara mendapatkan
kewibawaan sebagai Syarif atau Syekh degan memperoleh pengaruh besar di kalangan
raja-raja seperti Palembang ,Banjarmasin ,Cirebon ,Siak ,dan Pontianak
.Mempawah menjadikan Al-Habib Hussein sebagai tokoh yang berpengaruh .Akhirnya
beliau dipercaya menjadi Mufti selama 15 tahun di kerajaan Mempawah ,perjalanan
hidup Al-Habib Hussein terhenti ketika pada 3 Dzulhijah 1184 H (1770) beliau
wafat di Kerajaan Mempawah .
Kota Pontianak didirikan oleh Syarif
Abdurrahman Alkadri rabu tanggal 14 Rajab 1185 bertepatan dengan 23 Oktober
1771 .Syarif Abdurrahman Alkadri lahir di Matan pada hari senin tanggal 15
Rebuul awal 1154 H (1739 M) ,sebagai anak kedua dari Al-Haib Hussein .Pada
tanggal 24 Rajab 1181 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 23 Oktober 1771
Masehi, rombongan Syarif Abdurrahman Alkadri membuka hutan dipersimpangan tiga
Sungai Landak Sungai Kapuas kecill dan Sungai Kapuas untuk mendirikan balai dan
rumah sebagai tempat tinggal dan tempat tersebut diberi nama Pontianak .Barkat
kepemimpinan Syarif Abdurrahman Alkadri ,Kota Pontianak berkembang menjadi kota
Pedagangan dan pelabuhan .
Tahun 1192 Hijriah ,Syarif
Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagi Sultan Pontianak Pertama .Letak pusat
pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Raya Sutan Abdurrahaman
Alkadri dan istana Kadariah ,yang sekarang
terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur .Adapun Sultan yang
pernah memengang Pemerintahan Kesultanan Pontianak ialah:Sultan Syarif
Abdurrahman Alkadri Nur Alam Bin Husien Al-kadrie (1778-1808) ,Sutan Syarif
Kasim Al-Kadri (1808-1819) ,Sultan Syarif Usman Al-kadrie (1819-1855) ,Sutan
Syarif Hamid Al-Kadrie (1855-1872) ,Sultan Syarif Yusuf Al-Kadrie (1872-1895)
,Sultan Syarif Muhammad Al-Kadrie (1895-1944).
PERJUAGAN RAKYAT SAMBAS MENENTANG PENJAJAH
Pemerintah kolonial belanda mengusulkan kepada ratu wilhelmina,.untuk
dibangun jembantan beton yang kokoh. Masing-masing satu jembatan menghubungkan
antara kampung satu dengan kampung yang lain.ternyata usulan dengan dalil-dalil
itu pun diterima.perang Asia Timur Raya 1941-1945.untuk mengantisipasi
kehadiran tentara Dai Nippon,pemerintah kolonial belanda mempersiapakan politik
bumi hangus.untuk melawan jepang,Kaigun Dai Nippon menduduki kota sambas
padatanggal 29 januari 1942.Merasa terdesak oleh kehadiran tentara jepang
pemerintah kolonial belanda melakukan praktek bumi hangus, pasar sambas menjadi
lautan api, tentara ingin menghancurkan jembatan beton,namun rencana itu di
halang oleh masyarakat sambas yaitu Alwi Bakran,Hasyim dan adik
bungsunya,ketiga pemuda itu mencegah usaha tentara belanda untuk menghancurkan
jembatan beton tersebut, setelah berhasil menaklukkan tentara Belanda,tentara
Dai Nippon berhasil benduduki kota sambas.Pada 17 Agustus 1945 telah diketahui
oleh beberapa rakyat sambas melalui radio siaran dari serawak.berita itu
bersifat rahasia karena jepang masih menguasai sambas .berita kemerdekaan
indonesia resmi diketahui oleh rakyat sambas pemuda sambas yang bermukim di
pontianak bernama Zainuddin Nawawi dan Gifni Ismail kembali ke sambas.untuk
mempertahankan kemerdekaan yang susah direbut,pemuda sambas mendirikan
organisasi perjuangan yang diberi nama Persatuan Bangsa Indonesia(PERBIS) pada
15 oktober 1945, rapat bentukan PERBIS di tarbiyatul islam sambas, ketuanya H.M Siradj Sood.tujuan didikan PERBIS untuk
menyatukan rakyat sambas khususnya dan rakyat indonesi, dan guna menghadapi
penjajahan NICA. Pada tanggal 27 Oktober 1945 terjadi demontrasi besar-besaran
dihalaman istana kerajaam sambas. Ketika H.M.Siradj Sood hendak menaikan
bendera merah putih dihalaman kesultanan,akan tetapi beliau tertembah oleh
serdadu belanda, beliau pun gugur ditembak
sambil memeluk bendera merah putih.untuk meneruskan pejuangan suprapto
dan abdul latif melarikn diri ke hutan lebat.sebulan lamanya mereka bersembunyi,suatu
ketika mereka bertemu dengan hasyim ditepi hutan.kemudia hasyim memberitahukan
kepada zulkarnain dimana tempat persebunyian meraka berdua.ditemukanya mereka
berdua genaplah pengurusan BPDS Sambas.sebuan merupakan sebuah perkampungan
kecil di sambas,pada tanggal 13 November 1945 rapat yang dipimpin oleh Dr
Salehkan dirumahnya dihadiri para pemuda dan rapat itu pun berhasil menelorakan
organisasi yaitu Barisan Pembentuk
Republik Indonesia (BPRI) Penasehat dr salekan,komandan wan abbas. Pada tanggal
10 januari Tiga pejuang gugur yaitu djamaludin ,sa’ad dan hasan.Beruntunglah
nasib kapten alianyang yang lolos melarikan diri.
UPACARA
TIWAH
Upacara tiwah
merupakan salah satu ritual keaagamaan yang menjadi kekayaan budaya masyarakat
,Dayak Ngaju ,Kalimantan Tengah bagi masyarakat Ngaju
penganut hindu kaharingan upacara kematian merupakan upacara yang menjadi
tradisi sehingga menjadi kebisaan yang membudaya dan melekat sehingga wajib
untuk dilaksanakan .
PELAKSANAAN
UPACARA TIWAH
Waktu pelaksanaan upacara tiwah
biasanya berlangsung selama sebulan memerlukan persiapan yang matang serta
biaya yang cukup besar .Upacara Tiwah dapat dilaksanakan secara bersama-sama
gotong royong dan melibatkan banyak orang tanpa membedakan status sosial .Dalam
hal ini semakin banyak keluarga yang melaksanakan Tiwah maka akan meringankan
biaya yang harus ditanggung.
Dalam upacara Tiwah pemimpin yang
disebut basir dan duhung handepang telun .Sesajian yang digunakan untuk upacara
Tiwah banyak menggunakan symbol-simbol serta tarian sakral disebut Ritual
upacara Tiwah diyakini sebagai sarana untuk berhubungan dengan kekuatan dan
kekuaasaan Tuhan melalui simbol seperti upacara Balai Nyahu ,Sangkairaya
,Tihang Bendera Liau ,Manganjan Belian ,Hanteran Balai anjung-anjung ,Pasah Kanihi
,Sapundu ,Palangka ,Sandung dan
lain-lain.
Upacara Tiwah ini berfungsi
menghantarkan Telu Liau (tri liau)keleu tatau sesuai dengan pesan suci Tuhan
kepada utusan (keturunan) maha taja banu dan berfungsi sebagai pensucian bagi
mereka yang ditinggalkan (terantam nule)dalam menghantarkan lewu kelewu tatau
dengan symbol upacara hanteran basir munduk dan ngarahang tulang .Dalam upacara
tiwah ini anggota keluarga diajak untuk mewujudkan bakti kepada keluarga
,leluhur dan badan kita yang telah membantu kita selama hidup .Pada pelaksanaan
upacara Tiwah terdapat paliatau pantangan yang harus diikuti oleh peserta Tiwah
dan pengujungnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar