Minggu, 08 Maret 2020

PERGERAKAN NASIONAL DALAM MENCAPAI DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN


MANDOR BERDARAH
Sekitar 88 km timur Kota Pontianak ,tepatnya disebuah kota kecamatan yang bernama Mandor ,yang juga merupakan bagian dari Kabupaten Landak ,pernah terjadi sebuah tragedi sejarah kelsam pada tahun 1944 .Tentara pendudukan jepang melakukan pembantaian massal di Kalimantan Barat terhadap kalangan feodal lokal ,cerdik pandai ,ambtenaar ,politisi ,tokoh masyarakat ,tokoh agama ,hingga rakyat jelata ,dari berbagai etnis ,suku maupun agama .Borneo Sinbun surat kabar pemerintahan Balatentara jepang ,sabtu 1 Sitigatu 2604 atau juli 1944 halaman pertama menurunkan berita utama .Setidak nya ada 48 nama korban yang dimuat Borneo Sinbun hari itu ,lengkap dengan keterangan umur ,suku,jabatan/perkerjaan . Diungkapkan pula ,penangkapan secara besar-besar pertama kali dilakukan tentara jepang subuh 23 Zyugatu (23 Oktober 1943-pen) ,di susul penangkapan kedua subuh 24 Itigatu (24 Januari 1944-pen) .
Sekitar tiga tahun mendaulat Kalimantan Barat ,tentara pendudukan jepang telah membantai 21.037 orang versi pemerintah provinsi Kalimantan Barat 1977 .Dari lingkungan istana Kadariyah Pontianak ,jepang bukan hanya menangkap dan membunuh Sultan Syarif Muhammad Alkadri ,tetapi juga 59 korban lainya .Sangat sedikit nama korban yang tertulis di Borneo Sinbun itu .Adapun data 21.037 korban ini terungkap dari mulut Kiyotada Takahashi seorang turis jepang yang berkunjung ke Kalimantan Barat 21-22 Maret 1977 kepada Mawardi Rivai (alm) seorang wartawan Pontianak .Tseneo Iseki (izeki) menuliskan :…Selanjutnya saya perlu beritahukan bahwa tuan2 yang telah jadi korban dengan perkara Pontianak banyaknya 4486 orang (pen) .Setelah 1946 sampai awal 1949 ,waktu berkuasa pemerintah sekutu semua tulang belulang korban ,terutama di mandor ,dikumpulkan 
Pada 1976/1977 ketika itu pemerintah daerah tingkat I Kalbar membangun sebuah monument di mandor .Kompleks monumen dilengkapi pula dengan plaza yang luas ,di kiri-kanan monumen dibuat dinding beton ,masing-masing berukuran 15+2,5 berhiaskan relif .monumen ini di ersitek oleh Ir.M.Said Djafar (putra salah satu korban mandor) ,pelaksanaan pembangunan H.Fachrozi BE (CV Novan Nayan ,Pontianak) .Desain relief oleh seniman lukis Kalbar Syekh Abdul Aziz Yusnian ,pembuatan relief oleh hermani Cs .seniman Yogyakarta .Dengan Perda No. 5 Tahun 2007 ,Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menetapkan 28 juni sebagai hari hari Berkabung Daerah (HBD) Kalimantan Barat .Pengibaran bendera setengah tiang 28 juni di Kalimantan Barat ,dimulai pada 2007 .Kalimantan Barat berkabung atas malapetaka yang ditimbulkan tentara pendudukan jepang 1942-1945.

LAHIRNYA KOTA KETAPANG
Nama kota tanjungpura kuno menurut catatan orang portugis, inggris, belanda dan perancis disebut juga dengan nama taniampuro, taiao puro dan tanjungian. Beberapa orang eropa yang menamai peta wilayah geografis tanjungpura kuno dengan nama tersebut adalah Ferdinand magelhans (1523), Antonio pigafetta (1525), Sebastian muster (1540), Gastaldi (1548), ramusio (1554), Gerard Mercator (1569), Abraham ortelius (1570), Girolamo olgiato (1570), petrus plancius (1594), theodore de bray (1598; 1602), willem blaeu(1635), dan jan jansson (1657).
Menurut gusti kamboja (2004), seperti yang ia kutip dari atlas sejarah yang disusun Muhammad yamin tahun 1965, bahwa untuk mengidetifikasi nusantara raya menurut mpu prapanca di dalam naskah negarakertagama, wilayah geografi kota Ketapang saat itu diberi nama tanjungpura. Kemudian dalam peta pada masa kesultanan riau-johor (harun, 2003), wilayah kota Ketapang diberi nama matan.
Perubahan nama wilayah dari tanjungpura menjadi matan dan kemudian Ketapang. Tidak di ketahui pasti (kamboja, 2004). Hal ini karena tidak ada cataatn sejarah atau prasasti yang menunjukan peristiwa itu. Namun, perubahan tempat atau kota pada masa kerajaan, diduga akibat perubahan letak kerajaan atau berubahnya raja yang berkuasa di tempat itu akibat suatu peristiwa tertentu (perang, bencana alam, keputusan raja). Mengutip gusti kamboja (2004), perubahan nama kota matan menjadi ketapang kemungkinan berasal dari nama kampung ketapang yang terletak di pinggiran sungai Ketapang kecil oleh pemerintah republik Indonesia.
Kemungkinan lain nama Ketapang mengambil nama tumbuhan pantai, yaitu pohon Ketapang (terminalia catappa) yang banyak tumbuh di sepanjang pantai. Pada masa kerajaan pra-islam, pemberian nama kota atau negeri biasanya sama dengan nama kerajaan itu sendiri. Kebiasaan itu misalnya, kerajaan kediri, Cirebon, landak, mempawah dan sambas (kamboja, 2004). Kota Ketapang sampai saat ini pun belum mengetahui kapan berdirinya ibukota kabupaten ini. Sejarah Ketapang sebagai tempat pernah berdirinya kerajaan tanjungpura-matan memang tertua di antara kabupaten/kota lainya di provinsi Kalimantan barat.   


PEMERINTAHAN KOTA PONTIANAK
DARI SULTAN SAMPAI WALIKOTA
            AL-Habib Hussein merupakan seorang penyebar agama islam yang lahir pada 1706 M dan bersal dari kota Trim Hadralmaut tepatnya disekitar wadi Hadralmaut ,yang merupakan satu dari sejunlah satu kecil sungai di negeri Arab .Beberapa diantaranya para penyebar agama islam yang melakukan kegiatan dikawasan nusantara mendapatkan kewibawaan sebagai Syarif atau Syekh degan memperoleh pengaruh besar di kalangan raja-raja seperti Palembang ,Banjarmasin ,Cirebon ,Siak ,dan Pontianak .Mempawah menjadikan Al-Habib Hussein sebagai tokoh yang berpengaruh .Akhirnya beliau dipercaya menjadi Mufti selama 15 tahun di kerajaan Mempawah ,perjalanan hidup Al-Habib Hussein terhenti ketika pada 3 Dzulhijah 1184 H (1770) beliau wafat di Kerajaan Mempawah .
            Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadri rabu tanggal 14 Rajab 1185 bertepatan dengan 23 Oktober 1771 .Syarif Abdurrahman Alkadri lahir di Matan pada hari senin tanggal 15 Rebuul awal 1154 H (1739 M) ,sebagai anak kedua dari Al-Haib Hussein .Pada tanggal 24 Rajab 1181 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 23 Oktober 1771 Masehi, rombongan Syarif Abdurrahman Alkadri membuka hutan dipersimpangan tiga Sungai Landak Sungai Kapuas kecill dan Sungai Kapuas untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal dan tempat tersebut diberi nama Pontianak .Barkat kepemimpinan Syarif Abdurrahman Alkadri ,Kota Pontianak berkembang menjadi kota Pedagangan dan pelabuhan .
            Tahun 1192 Hijriah ,Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagi Sultan Pontianak Pertama .Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Raya Sutan Abdurrahaman Alkadri  dan istana Kadariah ,yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur .Adapun Sultan yang pernah memengang Pemerintahan Kesultanan Pontianak ialah:Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri Nur Alam Bin Husien Al-kadrie (1778-1808) ,Sutan Syarif Kasim Al-Kadri (1808-1819) ,Sultan Syarif Usman Al-kadrie (1819-1855) ,Sutan Syarif Hamid Al-Kadrie (1855-1872) ,Sultan Syarif Yusuf Al-Kadrie (1872-1895) ,Sultan Syarif Muhammad Al-Kadrie (1895-1944).

PERJUAGAN RAKYAT SAMBAS MENENTANG PENJAJAH
Pemerintah kolonial belanda mengusulkan kepada ratu wilhelmina,.untuk dibangun jembantan beton yang kokoh. Masing-masing satu jembatan menghubungkan antara kampung satu dengan kampung yang lain.ternyata usulan dengan dalil-dalil itu pun diterima.perang Asia Timur Raya 1941-1945.untuk mengantisipasi kehadiran tentara Dai Nippon,pemerintah kolonial belanda mempersiapakan politik bumi hangus.untuk melawan jepang,Kaigun Dai Nippon menduduki kota sambas padatanggal 29 januari 1942.Merasa terdesak oleh kehadiran tentara jepang pemerintah kolonial belanda melakukan praktek bumi hangus, pasar sambas menjadi lautan api, tentara ingin menghancurkan jembatan beton,namun rencana itu di halang oleh masyarakat sambas yaitu Alwi Bakran,Hasyim dan adik bungsunya,ketiga pemuda itu mencegah usaha tentara belanda untuk menghancurkan jembatan beton tersebut, setelah berhasil menaklukkan tentara Belanda,tentara Dai Nippon berhasil benduduki kota sambas.Pada 17 Agustus 1945 telah diketahui oleh beberapa rakyat sambas melalui radio siaran dari serawak.berita itu bersifat rahasia karena jepang masih menguasai sambas .berita kemerdekaan indonesia resmi diketahui oleh rakyat sambas pemuda sambas yang bermukim di pontianak bernama Zainuddin Nawawi dan Gifni Ismail kembali ke sambas.untuk mempertahankan kemerdekaan yang susah direbut,pemuda sambas mendirikan organisasi perjuangan yang diberi nama Persatuan Bangsa Indonesia(PERBIS) pada 15 oktober 1945, rapat bentukan PERBIS di tarbiyatul islam sambas, ketuanya  H.M Siradj Sood.tujuan didikan PERBIS untuk menyatukan rakyat sambas khususnya dan rakyat indonesi, dan guna menghadapi penjajahan NICA. Pada tanggal 27 Oktober 1945 terjadi demontrasi besar-besaran dihalaman istana kerajaam sambas. Ketika H.M.Siradj Sood hendak menaikan bendera merah putih dihalaman kesultanan,akan tetapi beliau tertembah oleh serdadu belanda, beliau pun gugur ditembak  sambil memeluk bendera merah putih.untuk meneruskan pejuangan suprapto dan abdul latif melarikn diri ke hutan lebat.sebulan lamanya mereka bersembunyi,suatu ketika mereka bertemu dengan hasyim ditepi hutan.kemudia hasyim memberitahukan kepada zulkarnain dimana tempat persebunyian meraka berdua.ditemukanya mereka berdua genaplah pengurusan BPDS Sambas.sebuan merupakan sebuah perkampungan kecil di sambas,pada tanggal 13 November 1945 rapat yang dipimpin oleh Dr Salehkan dirumahnya dihadiri para pemuda dan rapat itu pun berhasil menelorakan organisasi yaitu   Barisan Pembentuk Republik Indonesia (BPRI) Penasehat dr salekan,komandan wan abbas. Pada tanggal 10 januari Tiga pejuang gugur yaitu djamaludin ,sa’ad dan hasan.Beruntunglah nasib kapten alianyang yang lolos melarikan diri.
UPACARA TIWAH
            Upacara tiwah merupakan salah satu ritual keaagamaan yang menjadi kekayaan budaya masyarakat ,Dayak  Ngaju  ,Kalimantan Tengah bagi masyarakat Ngaju penganut hindu kaharingan upacara kematian merupakan upacara yang menjadi tradisi sehingga menjadi kebisaan yang membudaya dan melekat sehingga wajib untuk dilaksanakan .

PELAKSANAAN UPACARA TIWAH
            Waktu pelaksanaan upacara tiwah biasanya berlangsung selama sebulan memerlukan persiapan yang matang serta biaya yang cukup besar .Upacara Tiwah dapat dilaksanakan secara bersama-sama gotong royong dan melibatkan banyak orang tanpa membedakan status sosial .Dalam hal ini semakin banyak keluarga yang melaksanakan Tiwah maka akan meringankan biaya yang harus ditanggung.
            Dalam upacara Tiwah pemimpin yang disebut basir dan duhung handepang telun .Sesajian yang digunakan untuk upacara Tiwah banyak menggunakan symbol-simbol serta tarian sakral disebut Ritual upacara Tiwah diyakini sebagai sarana untuk berhubungan dengan kekuatan dan kekuaasaan Tuhan melalui simbol seperti upacara Balai Nyahu ,Sangkairaya ,Tihang Bendera Liau ,Manganjan Belian ,Hanteran Balai anjung-anjung ,Pasah Kanihi ,Sapundu  ,Palangka ,Sandung dan lain-lain.
            Upacara Tiwah ini berfungsi menghantarkan Telu Liau (tri liau)keleu tatau sesuai dengan pesan suci Tuhan kepada utusan (keturunan) maha taja banu dan berfungsi sebagai pensucian bagi mereka yang ditinggalkan (terantam nule)dalam menghantarkan lewu kelewu tatau dengan symbol upacara hanteran basir munduk dan ngarahang tulang .Dalam upacara tiwah ini anggota keluarga diajak untuk mewujudkan bakti kepada keluarga ,leluhur dan badan kita yang telah membantu kita selama hidup .Pada pelaksanaan upacara Tiwah terdapat paliatau pantangan yang harus diikuti oleh peserta Tiwah dan pengujungnya

CERITA MITOS DAN LEGENDA, MAHASISWA SEM 1 KELAS A.PAGI


ANDE ANDE LUMUT

Pada zaman dahulu, di Kerajaan Jenggala di serang oleh kerajaan musuh. Di saat pertempuran sengit berlangsung. Permaisuri raja yang bernama Putri Dewi Sekartaji melarikan diri dan bersembunyi ke sebuah desa yang jauh dari Jenggala. Untuk menjaga keselamatan jiwanya, ia menyamar sebagai gadis kampung. Dewi Sekartaji tinggal di tempat Nyai Intan, ia merupakan seorang janda kaya yang mempunyai tiga orang putri. Mereka adalah Klenting Abang (sulung), Klenting Ijo, dan Klenting Biru (bungsu). Oleh Nyai Intan, Dewi Sekartaji diangkat menjadi anak dan diberi nama Klenting Kuning. Setelah keadaan di Kerajaan Jenggala kembali aman, sang Pangeran mencari jejak istrinya. Ia pergi dan menyamar menjadi seorang pangeran yang sedang mencari jodoh. Panji Asmarabangun menyamar dengan nama Ande Ande Lumut. Lalu ia membuat sebuah sayembara. Dalam waktu singkat, berita tentang sayembara itu tersebar hingga ke desa tempat tinggal Klenting Kuning. Klenting Abang dan saudarinya mendengar kabar sayembara itu. Mereka sangat senang, dan ingin mengikuti sayembara itu dengan berhias dan berpakaian secantik mungkin. Tetapi, Klenting Kuning di larang ikut lalu di suruh mencuci pakaian oleh Klenting Abang di sungai.
Ketika Klenting Kuning sedang mencuci di sungai, tiba-tiba seekor burung bangau datang menghampirinya. Anehnya burung itu dapat berbicara seperti manusia dan kedua kakinya mencengkram sebuah cambuk. Burung itu berpesan kepada Klenting Kuning untuk segera pergi ke Desa Dedapan untuk mengikuti sayembara tersebut karena ia akan menemukan Pangera Panji Asmarabangun dengan berbekal cambuk yang akan menolongnya ke sana. Klenting Kuning kembali ke rumah dan berangkat menuju Desa Dedapan. Sementara itu, di tepi Sungai Bengawan Solo. Ketiga saudara dan ibu angkatnya kebingungan, karena harus menyebrangi sungai, tak ada perahu disana. Lalu,mereka melihat seekor kepiting raksasa yang bernama Yuyu Kangkang utusan Ande Ande Lumut. Ia diutus untuk menguji para peserta sayembara yang melewati sungai itu. Mereka meminta pertolongan kepada Yuyu Kangkang tetapi ada persyaratan yang harus di lakukan, yaitu dengan mencium Yuyu Kangkang. Dan mereka mau memenuhi persyaratan tersebut. Lalu Klenting Kuning tiba di tepi sungai itu. Yuyu Kangkang pun mengajukan persyaratan yang sama. Tetapi Klenting Kuning menolaknya berkali-kali karna ia tidak ingin menghianati suaminya. Berkali-kali Klenting Kuning memohon namun Yuyu Kangkang tetap menolaknya. Mengingat perkataan burung bangau tadi, Klenting Kuning memukulkan cambuknya ke sungai dan seketika pula air di Sungai Bengawan Solo menjadi surut. Melihat hal itu, Yuyu Kangkang menjadi ketakutan dan segera menyeberangkan Klenting Kuning bahkan sekaligus mengantarkannya ke Desa Dadapan. Sayembara  dimulai dan secara bergiliran Klenting Abang dan kedua adiknya menunjukkan kecantikannya di hadapan Ande Ande Lumut. Namun, tak seorang pun yang di pilih, karena menurutnya Klenting Abang dan kedua saudarinya telah mencium Yuyu Kangkang. Lalu dia memilih Klenting Kuning dengan persyaratan tidak mencium Yuyu Kangkang. Kemudian Ande Ande Lumut membongkar penyamarannya,  dia mengaku sebagai Panji Asmarabangun. Klenting Kuning sangat bahagia karena ia telah bertemu dengan suaminya.


BATU BAGGA

Di suatu kampung pesisir Sulawesi Tengah, hiduplah seorang laki-laki paruh baya bernama Intobu, ia tinggal bersama anaknya, Impalak. Istrinya telah lama meninggal. Mereka sangatlah miskin, hidup mereka hanya bergantung pada ikan di laut. Impalak yang sudah dewasa pun berkeinginan untuk memperbaiki nasib. Dengan perasaan tak tega meninggalkan ayahnya, Impalak pun meminta izin kepada ayahnya untuk pergi merantau. Intobu tak dapat berbuat apa-apa ia pun mengizinkan anaknya merantau.
Impalak pun memutuskan untuk segera berlayar menggunakan perahu Bagga. Dengan harapan ia bisa mengubah nasibnya dan juga ayahnya. Beberapa tahun kemudian, ketika Intobu sedang mencari ikan di pelabuhan, ia melihat sebuah perahu Bagga sedang menuju ke Pelabuhan. Saat perahu itu mulai mendekat, ia melihat seorang pria dan wanita cantik, yang ia yakini bahwa pria itu adalah anakanya yang kini telah berhasil di perantauan.
“Impalak! Impalak! Anakku”  teriak Intobu dengan penuh semangat dari sampan kecilnya. Karena malu, Impalak berpura-pura tak mendengar. Sepertinya orang tua itu memanggilmu, apakah dia ayahmu” tanya istri Impalak. Impalak tertawa mengejek, “mana mungkin, ayahku sudah lama meninggal, dia itu orang sakit jiwa” ujar Impalak.
Sementara itu, Intobu terus mengayuh sampannya mengejar perahu Bagga milik Impalak sambil terus berteriak memanggil anaknya. Tiba-tiba sampannya tertiup angin kencang. “ Impalak tolong  aku!” teriak Intobu. Namun, Impalak malah tertawa dan mengejek. Intobu sangat kecewa dan marah, “ Ku kutuk kau, dan perahu Bagga mu jadi batu Impalak!”
Tiba-tiba angin besar meniup perahu Impalak sehingga terseret ke pesisir, dan seketika perahu Bagga dan seluruh awaknya menjadi batu, yang kini di sebut Batu Bagga.



ASAL MULA SITU BAGENDIT

Alkisah, di sebuah desa  terpecil di daerah Jawa Barat, ada seorang janda muda dan tidak mempunyai anak. Suaminya telah meninggal dunia dan mewariskan harta kekayaan yang melimpah serta rumah yang mewah. Ia adalah seorang janda yang kaya raya. Tetapi walaupun sangat kaya, janda itu sangat kikir, pelit dan juga tamak. Ia tidak pernah mau membantu orang lain yang membutuhkan. Ia tidak segan-segan mengusir orang miskin yang datang ke rumahnya untuk meminta bantuan. Karena sifat kikirnya itu, maka  masyarakat memanggilnya Bagende Endit, yang artinya orang kaya yang pelit. Bagende Endit juga mewarisi pekerjaan suaminya sebagai rentenir. Hampir seluruh tanah pertanian itu adalah miliknya. Ia membeli tanah pertanian dari penduduk dengan cara memeras, yaitu meminjamkan uang kepada warga dengan bunga yang tinggi.
Suatu hari, ketika Bagende Endit sedang sibuk menghitung emas dan permatanya di depan rumah, tiba-tiba datanglah seorang perempuan tua sambil menggendong bayi dengan kain lusuhnya. “ Bagende Endit, kasihanilah kami! Sudah dua hari amal saya tidak makan,” kata perempuan itu memelas. “ Cepat kau pergi dari hadapanku!” bentak Bagende Endit. Bayi di gendongan perempuan itu pun menangis mendengar suara bentakan Bagemde Endit. Karena kasihan melihat bayinya, perempuan tua it terus memohon agar diberi sesuap nasi. Bagende Endit masuk ke dalam rumah. Namun, bukan makanan yang dibawanya, melainkan sebuah ember yang berisi air dan di siramkan ke perempuan tua itu. Keesokan harinya, beberapa warga datang ke rumah Bagende endit meminta air. “Hai, kalian semua! Jika kalian mau mengambil air, pergilah ke sungai sana!” usir Bagende Endit. Tak berapa lama setelah warga tersebut berlalu, tiba-tiba seorang kakek tua renta berdiri sambil memegang tongkatnya di depan rumah Bagende Endit kakek itu juga bermaksud untuk meminta air tapi hanya untuk diminum. “Ampun Bagende Endit! Berilah hamba seteguk air minum. Hamba sangat haus.” iba kakek itu. Bagende Endit yang sejak tadi sudah merasa kesal menjadi semakin kesal melihat kedatangan kakek tua itu. Tanpa sepatah katapun, ia keluar dari rumahnya lalu menghampiri dan merampas tongkat sang kakek. Dengan tongkat itu, ia kemudian memukuli kakek itu hingga babak belur dan jatuh tersungkur ke tanah. Ia membuang tongkat itu di samping kakek itu lalu masuk ke dalam rumahnya. Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, kakek itu berusaha meraih tongkatnya untuk bisa bangkit kembali. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, kakek itu menancapkan tongkatnya di halaman rumah Bagende Endit. Begitu ia mencabut tongkat itu, tiba-tiba air menyembur keluar dari bekas tancapan tongkat itu. Bersamaan dengan itu, kakek tua itu pun menghilang entah kemana. Semakin lama semburan air itu semakin besar  dan deras. Para warga pun berlarian meninggalkan desa itu untuk menyelamatkan diri. Sementara itu, Bagende Endit sibuk menyelamatkan hartanya tanpa disadarinya, ternyata air telah menggenangi seluruh desa. Ia pun berusaha untuk menyelamatkan diri sambil berteriak meminta tolong.
Bagende Endit tenggelam bersama seluruh harta kekayaannya. Semakin lama, desa itu terus tergenang air hingga akhirnya lenyap dan menjadi sebuah danau yang luas dan dalam. Oleh masyarakat, danau itu diberi nama Situ Bagendit.


ASAL MULA NAGARI MINANGKABAU

Dahulu kala, di daerah Sumatera Barat, ada sebuah kerajaan yang  makmur dan damai dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana. Kerajaan itu bernama Kerajaan Pagaruyung. Suatu ketika terdengar kabar bahwa kerajaan Majapahit akan menyerang kerajaan Pagaruyung . Padahal para pemimpin Kerajaan Pagaruyung memberikan semboyan kepada seluruh prajurit untuk menegakkan perdamaian. Suatu hari, Raja kerajaan Pagaruyung melakukan diskusi dengan para penasehatnya. Mereka mencari cara untuk menahan serangan pasukan Majapahit. Seorang penasehat kepercayaan Raja mengusulkan ide yang cemerlang. “Paduka Raja, Apakah sebaiknya kita ajak musus untuk berunding demi menghindari pertumpahan darah. Kita sambut mereka di perbatasan setelah itu kita ajak mereka untuk berunding. Jika mereka menolak, ajaklah mereka untuk beradu kerbau,” kata penasehat Raja itu Setelah itu, sang Raja bersama punggawanya menyiapkan segala sesuatunya. Sang Raja menyuruh putrinya untuk mencari beberapa dayangnya yang cantik. Lalu mereka diajari tata karma dan memakai pakaian yang indah.
Pasukan Majapahit tiba di perbatasan. Mereka dijamu oleh dayang-dayang istana. Melihat perlakuan ramah serta hidangan dan hiburan yang diberikan, pasukan Majapahit menjadi terheran-heran, dan menjadi luluh. Datuk Tantejo Garhano segera mengajak pemimpin mereka ke istana untuk menemui sang Raja. “Selamat datang, Tuan,” sambut sang Raja dengan ramah. “Ada apa gerangan Tuan kemari,” kata sang Raja. “Kami di utus oleh Raja Majapahit untuk menaklukkan Pagaruyung.” jawab pemimpin itu. “Kami memahami tugas Tuan. Tapi, bagaimana kalau perperangan ini kita ganti dengan adu kerbau. tujuannya adalah untuk menghindari pertumpahan darah di antara pasukan kita.” Jawab sang Raja. Pemimpin pasukan Majapahit itu terdiam. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia pun menyetujui usulan sang Raja. “Baiklah, Paduka Raja. Kami menerima tawaran Paduka,” jawab pemimpin itu.
Keesokan harinya, kedua kerbau aduan dibawa ke gelanggang. Kedua kerbau itu dilepas, kerbau milik Majapahit terlihat beringas dan liar, sedangkan  milik Pagaruyung adalah seekor anak kerbau. Anak kerbau milik Pagaruyung segera memburu kerbau besar karena mengira induknya. Perut kerbau milik Majapahit pun terluka terkena tusukan besi runcing yang terpasang dimulut anak kerbau milik Pagaruyung. Setelah beberapa kali tusukan, kerbau milik pasukan Majapahit akhirnya roboh dan terkapar ditanah.
Berita kemenangan Kerajaan Pagaruyung mengalahkan Majapahit menggunakan kerbau terkenal keseluruh pelosok desa. Kata “minang kabau” berarti menang kerbau. Kinii atap rumah Minangkabau menyerupai bentuk tanduk kerbau.




JAKA TARUB

Sepeninggal ibunya, Jaka Tarub mengisi hari-harinya dengan berburu. Hampir setiap hari ia berburu ke hutan. Hanya dengan berburu, Jaka Tarub bisa melupakan kesedihannya. Seperti pagi itu, Jaka Tarub pergi ke Hutan untuk berburu. Ketika sampai di hutan, ia hanya menunggu hewan buruan lewat di depannya. Tetapi tak ada satupun hewan buruan yang didapat. Jaka Tarub pergi ke danau Tayawening karena kehausan. Tiba-tiba ia mendengar suara gadis-gadis yang sedang bercanda. “Mana mungkin ada gadis bermain di tengah hutan belantara begini”, pikirnya. Suara itu semakin jelas terdengar. Jaka Tarub mengintip dari balik pohon besar. Alangkah terkejutnya ia menyaksikan tujuh orang gadis cantik sedang mandi di Danau Toyawening. Semuanya berparas cantik. Dari percakapan mereka, Jaka Tarub tahu kalau tujuh gadis itu adalah bidadari yang turun dari khayangan. “Apakah ini arti mimpiku waktu itu”, pikirnya senang. Jaka Tarub melihat tumpukan pakaian bidadari di atas sebuah batu besar di pinggir danau. Pakaian itu memiliki warna yang berbeda. Jaka Tarub mengambil salah satunya. Dengan hati-hati Jaka Tarub berjalan menghampiri tumpukan baju itu. Jaka Tarub memilih selendang berwarna merah. Setelah berhasil, Jaka Tarub buru-buru menyelinap ke balik semak.
Tiba-tiba seorang bidadari berkata, “ Ayo kita pulang sekarang hari sudah sore”. “Ya benar, sebaiknya kita pulang sekarang  sebelum matahari terbenam”. tambah yang lain. Para bidadari itu keluar dari danau. “Dimana selendangku”, teriak seorang bidadari. “ Siapa yang mengambil bajuku”, tanya bidadari itu. “Dimana kau taruh bajumu Nawangwulan”, tanya bidadari yang lain. “Disini.” jawab Nawangwulan. Ia terlihat sangat panik. Tanpa bajunya, ia tak bisa pulang ke Khayangan.
Nawangwulan hanya bisa melambaikan tangan kepada keenam temannya yang terbang meninggalkan Danau Toyawening. “Mungkin memang nasibku untuk menjadi penghuni bumi” piker Nawangwulan sambil menangis. Kemudian, ia berucap “Barangsiapa yang bisa memberiku pakaian, akan kujadikan saudara bila ia perempuan, tapi bila laki-laki akan kujadikan suamiku”. Jaka Tarub muncul dari balik pohon dan menolongnya. Sejak itu Jaka Tarub menikah dengan Nawangwulan, seorang bidadari dari Khayangan. Mereka dikaruniai seorang putri cantik yang bernama Nawangsih.



PONTIANAK MASA KOLONIAL, MAHASISWA SEM 1 KELAS A.PAGI

PONTIANAK MASA KOLONIAL
Kerajaan Pontianak letaknya di kawasan strategis bagi pelayaran dan perdagangan, sehingga tidak luput dari perhatian para bajak laut. Setelah adanya jaminan keamanan berdagang dari Sultan, maka lalu lintas pelayaran niaga mulai mengalami kemajuan dengan ramainya kedatangan para pedagang ke Pontianak, baik dari luar maupun di sekitar Kerajaan Pontianak yang berada di wilayah Kalimantan Barat. Posisi pusat kerajaan yang letaknya berada di muara sungai Kapuas dan Landak yang erat hubungannya dengan faktor geografis, sehingga sangat penting dalam hubungan kegiatan lalu lintas perdagangan. Letak lokasi Kerajaan Pontianak yang strategis diperkuat oleh pendapat Charles M. Cooley bahwa dalam hubungan lalu lintas inilah yang menjadi sebab utama pusat kerajaan yang terletak di muara atau di pertemuan sungai mengalami kemajuan di bidang perdagangannya. Campur tangan VOC dalam urusan intern kerajaan membawa Pontianak terlibat dalam pertikaian politik dan ekonomi antarkerajaan. Perebutan kekuasaan di wilayah Kalimantan Barat menjadi kompleks dengan adanya konflik perbatasan antara Mempawah dan Sambas. Meskipun konflik itu dapat diselesaikan melalui perantaraan Sultan Syarif Abdurrahman, namun kemudian perselisihan antara Panembahan Mempawah dan Sultan Syarif Abdurrahman mulai meningkat. Faktor ini disebabkan Panembahan Mempawah tidak memenuhi pembayaran denda sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Sultan Syarif Abdurrahman berusaha untuk menaklukan Mempawah dengan meminta bantuan kepada VOC bahwa Panembahan Mempawah adalah musuh besarnya, disebabkan munculnya persaingan perdagangan antar kedua kerajaan. Di sisi lain, hubungan Pontianak dengan VOC telah memberikan keuntungan bagi VOC, secara perlahan menggeser otoritas Sultan dengan memperoleh hak politik dan ekonomi untuk mengatur kekuasaannya di Pontianak.

Pada akhir abad ke-18, VOC mengalami kebangkrutan akibat merajalelanya korupsi yang berdampak pada krisis keuangannya. EIC2 menggantikan kekuasaan VOC dalam waktu cukup singkat. EIC kemudian menyerahkan kekuasaannya kepada pemerintah Belanda, pemerintah Belanda melanjutkan politik VOC dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik serta penghasilan sebagai upeti dan laba perdagangan. SEJARAH KESULTANAN MELAYU SANGGAU Nama sanggau diambil dari sebuah nama batang sungai sanggau. Menurut lidah atau spiling Melayu asli Sangau, perkataan sanggau yang asli adalah “sangau”. Jika mengacu dengan sejarah Sanggau, secara mitos (Zahri Abdullah, 2006) kesultanan sanggau dimulai dengan legenda Dayang Mas yang bersuamikan Nurul Kamal keturunan kiyai Kerang dari Banten. Kiyai Kerang dari Banten . Dayang Mas kemudian digantikan oleh Dayang Puasa dengan gelar Nyai Sura yang dibantu suaminya, Abang Awal keturunan Sultan Embau dan dijaman tersebut, sultan sanggau menjalin persahabatan dengan sultan Sintang yakni Sultan Zubair. Sejarah kesultanan Sanggau yang sebenarnya adalah bermula dari seorang utusan dari tanah Jawa, terutama Daerah Banten yang bernama Kiayi Patih Gemintir. Kiayi Patih Gemintir merupakan salah seorang murid kepada Maulana Malik Ibrahim (Wali Songo), yang sengaja diutus untuk berdakwah di daerah pedalaman Kalimantan. Meskipun tidak disebutkan pedalaman Kalimantan secara spesifik, tetapi tedapat ahli sejarah mengatakan bahwa ketika Maulana Malik Ibrahim berdagang sambil berdakwah di Gresik, dan daerah Banten. Beliau telah mendirikan sebuah pondok pesantren di Banten, banyak santrinya dari berbagai daerah yang belajar agama di pondok pesantren tersebut, dan banyak menjadi ulama. Terdapat suatu catatan sejarah menggunakan bahasa Arab Jawi (Arab Melayu) bahwa Kiayi Patih Gemintir merupakan gelar kebesaran Abang Abdurrahman yang berkuasa pada tahun 1450-1458 M. Abang Abdurrahman lah orang pertama yang mendirikan sultan Mengkiang dan orang pertama yang menggunakan nama “ABANG” di Sanggau.

Diprediksikan, jauh sebelum Sultan Abang Abdurrahman (1450-1485 M) mendirikan sebuah kesultanan di Mengkiang, mungkin agama Islam juga pernah masuk ke Mengkiang, Sanggau dari kesultanan Brunei Darussalam. Asumsi ini didasarkan pada suatu pandangan geografi, arkeologi dan antropologi. Di dalam catatan sejarah Cina, bahwa pada tahun 1370 M Brunei atau Puni pada masa itu rajanya yang bernama Ma-ha-mo-sya (Sultan Mohammad Syah). Jadi dapat kita simpulkan bahwa kesultanan Sanggau ada hubungannya dengan kesultanan dari Brunei Darussalam. KERAJAAN SINTANG Kerajaan Sintang terletak dipedalaman kalimantan Barat ,kerajaan sintang kaya akan dengan jenis kayu3 yang menjadi komoditas dagang,kerajaan sintang juga mempunyai potensi ekonomi yang amat besar.Dan ternyata hubungan kedua kalimantan barat dengan dunia luar ialah dengan kerajaan jawa hindu dari majapahit kontak itu menghasilkan kerajaan yang mengakui kekuasaan majapahit seperti sukadana landak dan tanah tanah pinoh . Pada awalnya kerajaan sintang bercorak hindu budha kemudian melanjutkan dengan masuknya agama islam dan negara atau kerajaan disebut kesultanan.bahkan setelah sintang menjadi kerajaan hindu ,islam dan kemudian dibawah pemerintahan kolonial belanda. Kerajaan sintang terletak diantara kerajaan kerajaan disungai kapuas diantaranya ,kerajaan banjarmasin dan berkaitan dengan kerajaan yang berada di hilir kerajaan sintang sekadau,sanggau,tayan meliau,kerajaan yang berada dihulu kerajaan sintang silat , suhaid, selimbau,piasa, jongkong, bunut. Masuknya penjajah penjajah ke daerah sintang yang menyebabkan terjadinya perlawanan perlawan didaerah sintang dan menybabakan kerajaan sintang runtuh adapun perlawanan perlawanan yang berada dikota sintang yaitu serangan terhadap ibu kota yang dipimpin oleh Haji Mohammad Saleh pada malam 29 april yang pada waktu itu digeledah dan mereka menemukan pengangkatannya pada sesuatu jabatan dengan cap setempel pangeran Mas Nata Wijaya.

Ekspedisi milter dan laporan espedisi ternyata semua dengan nama islam seruan melakukan perlawanan bersenjata terhadap belanda seperti yang terjadi dengan perang banjarmasin ,pangeran mas nata wijaya menggunakan islam sebagai pengobar semangat,tetapi rupanya ini hanya berlaku bagi penduduk yang beragama islam sedangkan tidak bagi sub etnis dayak yang masih banyak memegang teguh kepercayaan asli mereka. Ada pun pola yang dibuat oleh pandong ialah melakukan penyerangan setelah itu melahirkan diri akan tetapi sudah tidak lagi mempunyai pengikut akhirnya ia melahirkan diri ke serawak .Perlawanan dayak merka dan jungkat , perlawanan tebidah ,perlawanan raden paku jaya ,perlawanan panggi,perlawanan apang semangai itulah beberapa perlawanan yang terjadi dikota atau kerajaan sintang. Perubahan kota sintang terletak pada infrastruktur nya sudah terlihat maju dari sebelumnya terdapat bandara yang ada pada kota sintang dan masih banyak lagi nya yang membuat kota sintang maju. KERAJAAN TANJUNGPURA Kerajaan Tanjungpura merupakan salah satu kerajaan tertua di Kepulauan Kalimantan yang kedudukannya disejajarkan dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Nusantara. Sumber yang menyatakan tentang keberadaannya dapat dibaca dalam Negarakartagama karangan Mpu Prapanca pada masa Kertanagara(1268-1292) dari Singosari dan pada masa kerajaan majapahit dengan sumpah palapa patih mangkubumi Gaja Mada(1258 saka atau 1336 m). Letak kerajaan tanjungpura di bagi menjadi dua yaitu ,negeri baru dari beberapa peninggalan sejarah di negeri baru (disebut juga benua lama) nampaknya daerah tersebut adalah salah satu pusat kerajaan di ketapang yang dalam tulisan para sejarahwan disebut Tanjungpura atau Tanjung Negara atau Bakulapura dengan ibu negerinya Tanjungpuri. Kayong (Muliakerta) karena keadaan sudah berkembang dipilihlah suatu lokasi bernama kayung sebagai ibukota kerajaan matan.

Op raad zijner beide vrouwen boude brawijaya zich eene woning . niet ver van de plaats waar thans kayung. De hoopfdplaats van het matansche rijk( P,J,Veth 1854: 187) . penulis belanda menyebutnya kerajaan matan baru dipakai setelah Sultan Muhammad Zainuddin memindahkan pusat kerajaan dari Sukadana ke sungai Matan ( Ansar Rahman : 109-110). Raja-raja yang berkuasa di kerajaan Tanjungpura .Brawijaya (1454-1472 ) Brawijaya keturunan dari Damarwulan. Damarwulan beranakkan sang ratu kencana, ratu kencana beranakkan Brawijaya dengan enam saudaranya yang lain. Yang tertua bernama lang buana, kedua jayapati . ketiga lang singapati ,keempat jayawani, kelima Indra Wadana, keenam wiaya wani, dan yang ketujuh Indra Wijaya. Bapurung (1472-1487) putri junjung buih melahirkan dua putra, bapurung dan brangga sentap. Pada zaman raja bapurung. Kerajaan Tanjungpura seperti bunga mawar yang harum baunya, negeri yang makmur dengan penduduk yang ramai dan menguasai daerah yang luas di Kalimantan Barat. Panembahan karang tunjung (1487-1504) , karang tanjung kawin dengan putri kilang dari Brunei mempunyai anak yang bergelar Sang Ratu Agung. Pada zaman penembahan karang tunjung inliah kerajaan Tanjungpura di Benua Lama dialihkan ke Sukadana yang letaknya sangat strategis , ditepi pantai yang terbuka, hubungan komunikasi dan perdagangan akan lebih berkembang sehingga menjadi Sukadana Bandar perniagaan yang ramai. BERDIRINYA PEMERINTAHAN KOTA SINGKAWANG Asal usul kata singkawang muncul dalam beberapa versi menurut bahasa. Dalam versi melayu dikatakan bahwa nama singkawang diambil dari nama tanaman “Tengkawang ” yang terdapat diwilayah hutan tropis. Awalnya singkawang menurut sebuah desa bagian dari wilayah kerajaan sambas. Desa singkawang sebagai tempat singgah para pedagang dan penambanga emas dari Monterado. Waktu itu,mereka ( orang tionghoa ) menyebut yaitu singkawang dengan sebutan sang keuw jong , mereka berasumsi dari sisi geografis bahwa singkawang yang berbatasan langsung dengan laut Natuna serta terdapat pegunungan dan sungai , dimana airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai sampai ke muara laut. Melihat perkembangan singkawang yang dinilai oleh mereka yang cukup menjanjikan, sehingga antara penambang tersebut beralih profesi ada yang menjadi petani dan pedagang di singkawang yang pada akhirnya para penambang tersebut tinggal dan menetap di singkawang. Kelahiran pemerintahan kota singkawang tidak terlepas dari semangat otonomi daerah 4yang telah digulirkan pemerintah pusat, mulai pada 1959 hingga pada awal tahun 1999 melalui uud no 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah . Pembentukan pemerintahan kota singkawang mengacau pada tujuan pemebentukan daerah baru ,sebagaimana tercantum dalam undang-undang nomor 27 tahun 1999,yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui : peningkatan pelayanan masyarakat percepatan pertumbuhan kehidupan ekonomi.percepatan pelaksaan pembangunan perekonomian daerah percepatan pengeolahan pontesi daerah, peningkatan keamanan dan ketertiban dan peningkatan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah . Kejayaan kota singkawang yang pernah dicapai ketika itu baik dibidang ekonomi, pembangunan sebagai keindahan dan sebagai nya , dalam sekejam menurut dratis singkawang menjadi kota yang terbengkalai wajah kesal tidak hanya telihat pada seluruh anggota masyarakat karena kota kesayangan mereka “ tercecer ” dari program otonomi yang sebenarnya memang sudah lama diidamkan.

PERGERAKAN NASIONAL DALAM MENCAPAI DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

MANDOR BERDARAH Sekitar 88 km timur Kota Pontianak ,tepatnya disebuah kota kecamatan yang bernama Mandor ,yang juga merupakan bagian dar...